Sabtu, 12 Mei 2018

Nestapa "Monumen Perjuangan Masyarakat Cipongkor" Melawan Kekejaman Pasukan APRA

Nestapa "Monumen Perjuangan Masyarakat Cipongkor" Melawan Kekejaman Pasukan APRA

Sepertinya tak banyak yang mengetahui riwayat dibalik Monumen Perjuangan yang terletak di Kampung Cipari, Desa Cijmbu, Kecamatan Cipongkor, Bandung Barat. Terutama bagi sebagian besar kalangan muda yang lahir belakangan. Padahal dibalik monumen tersebut, terdapat kisah heroik, kegigihan rakyat Cipongkor untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Dan kisah perlawanan rakyat Cipongkor ini luput dalam catatan sejarah yang ada saat ini.

Konon, pada Januari tahun 1950 terjadi pendudukan dan penyerangan Kota Bandung yang dilakukan oleh sejumlah pasukan eks tentara KNIL (tentara hindia Belanda) dibawah pimpinan Raymond Westerling yang dikenal dengan pasukan APRA (Angkatan Perang Ratu Adil). Pusat latihan mereka berada di markas militer Batujajar. Mereka berhasil menduduki markas staf divisi Siliwangi dan dan membunuh ratusan prajurit. Peristiwa ini dikenal dengan kudeta 23 Januari.

Pasukan ini dikenal kejam dan bengis. Tindakannya seringkali meresahkan masyarakat dengan melakukan perampasan barang-barang, menyiksa dan menembak secara membabi buta. Ternyata, tindak tanduk pasukan ini juga menimpa masyarakat Cipongkor yang posisinya jauh di pinggiran Kota Bandung.

Menurut cerita yang beredar dikalangan orang tua, pasukan APRA melakukan pembantaian terhadap warga dibawah komandan operasi Inspektur Polisi Van Beeklen dan Van der Meula. Tak terima dengan kekejaman pasukan ini, masyarakat pada saat itu melakukan perlawanan dengan peralatan seadanya. Akibat kekejaman pasukan ini telah mengakibatkan korban nyawa rakyat Cipongkor berguguran, demi menjaga harkat dan martabat bangsa yang merdeka.

Untuk menjaga nilai sejarah dan spirit perjuangan rakyat pada waktu itu, pada tahun 1984 Bupati Bandung Sani L Abdurrahman  membangun sebuah monumen perjuangan. Luasnya kurang lebih 100 meter persegi dengan tinggi 10 meter menyerupai Bambu runcing.

Sayangnya, keberadaan monumen bersejarah ini kurang terawat dengan baik. Bagunannya makin lapuk dan rusak. Lokasi sekelilingnya tidak terurus dan mendapat perhatian, baik dari warga maupun pemerintah.

Keprihatinan ini menggugah komunitas Balads Leuweung yang banyak bergerak dibidang lingkungan.

"Kehadiran kami disini untuk membersihkan dan merawat sebagai bentuk terhadap lingkungan. Terlebih ini merupakan salah satu bangunan bersejarah," kata sesepuh Balads Leuweung Asep Gondrong.

"Merawat monumen bersejarah merupakan salah satu penghormatan kami terhadap para pahlawan terdahulu," tambah Budsan.

Komunitas Balads Leuweung

Komunitas Balads Leuweung berharap, pemerintah dapat memperhatikan keberadaan monumen perjuangan ini dengan menjaganya. Paling tidak kebersihan, penerangan dan perawatannya.

"Tugu itu kini hanya sebatas monumen bisu dengan lokasi sekelilingnya yang tak terurus, butuh perhatian untuk melestarikan salah satu tonggak sejarah masyarakat dan negeri ini," kata Pay personel Balads Leuweung lainnya.

Menjaga dan merawat monumen ini merupakan bentuk penghormatan kita atas pengorbanan jiwa raga para pendahulu. Sehingga dapat menjadi spirit perjuangan bagi generasi masa kini dan mendatang untuk mengisi ruang kemerdekaan. (ER/NH).
ARTIKEL SELANJUTNYA Selanjutnya
ARTIKEL SEBELUMNYA Sebelumnya
ARTIKEL SELANJUTNYA Selanjutnya
ARTIKEL SEBELUMNYA Sebelumnya
 

Masukan email Anda di bawah ini