Rabu, 16 Mei 2018

Puasa Para Tokoh Dunia

Samsul Maarif, sumber foto: pikiran-rakyat.com
PUASA PARA TOKOH DUNIA
Oleh : Samsul Maarif

Puasa bukan hal baru. Dalam studi sejarah agama-agama dan perbandingan agama, diketahui bahwa ternyata ibadah puasa (seperti halnya ibadah kurban) telah menjadi tradisi sepanjang sejarah manusia diberbagai bangsa, agama, suku, sekte dan lain sebaginya.

Bangsa Mesir kuno melakukan puasa pada hari-hari besar, mereka bangsa Cina kuno juga melakukan pada hari-hari tertentu yang dianggap bermalapetaka, biasanya dalam perang dan menaklukkan bangsa lain, bangsa Romawi kuno selalu berpuasa menjelang berangkat ke medan tempur agar memperoleh kekuatan dan kemenangan. Orang-orang Yahudi berpuasa ketika menghadapi kesedihan, penindasan (akibat diaspora), bencana dan wabah penyakit terutama pada saat dukun mereka sedang mencari ilham. Seperti halnya Nabi Musa, Nabi Isa juga berpuasa 40 hari sebelum memulai masa kerasulannya.

Barangkali termasuk itulah yang dimaksud Allah SWT dengan orang-orang (dahulu) sebelum kamu, dalam Surat Al-Baqarah ayat 183 yang berbunyi “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan puasa atas kamu sebagaimana diwajibkan atas orang-orang (dahulu) sebelum kamu, agar kamu menjadi orang yang bertaqwa”.

Boleh jadi secara metodologis (teknis Syar’i) berpuasanya masing-masing berbeda. Hal ini sangat tergantung pada tingkat kekuatan fisik, tingkat budaya dan peradaban, serta tingkat keperluan puasa itu sendiri. Serta kita tidak boleh lupa bahwa segala syariat yang diturunkan Tuhan, termasuk puasa tadi, selalu disesuaikan dengan kondisi seperti tersebut di atas. Itulah mengapa Allah disebut juga Al-Hakimu (Maha Bijaksana).

Belakangan, di abad XX ini, tokoh kharismatik kelas dunia selalu melakukan puasa. Tercatat, tokoh agama dan politik Ahimsa (anti kekerasan) dari India yaitu Mahatma Gandhi, menghabiskan paruh waktunya dengan berpuasa hingga badannya kurus kering, harga yang terbayar pun luar biasa. Penjajah Inggris hands off dan foots off (takluk dan hengkang) menghadapi cara Gandhi ini. India merdeka.

Tokoh revolusi dan spiritual Iran, Ayatullah Khomaeni, selalu berpuasa hingga sanggup membakar semangat juangnya menuju revolusi Iran tahun 1979. Begitu pula tokoh spiritual dan perdamaian Tibet, Bhikku Dalai Lama, yang beberapa tahun lalu memeperoleh hadiah Nobel perdamaian tanpa kontroversi sedikit pun, hari-harinya selalu diisi dengan puasa.

Islam, sebagai agama penyempurna yang sempurna, memberi tempat yang istimewa terhadap ibadah puasa (bulan Ramadhan ini). Kita difardhukan untuk melakukannya. Untuk apa? Jawabannya sederhana: Agar kita mencapai derajat takwa, seperti tersebut di atas (Al-Baqarah; 183). Untuk mencapai derajat takwa inilah yang tidak sederhana (baca : tidak mudah) setidaknya ada dua aspek yang kita tidak boleh abai.

Pertama, aspek metodologis atau aspek syariat. Puasa dalam dan secara Islam berbeda dari bentuk-bentuk puasa lainnya yang ada dalam tradisi kebudayaan manapun, biasanya para fuqaha mendefiniskan puasa dengan “menahan diri dari makan dan minum serta berhubungan seksual pada siang hari (dari terbit fajar hingga matahari terbenam), seraya menahan diri dari hal-hal yang membatalkannya”.

Makan dan minum adalah dua kegiatan yang melambangkan dorongan nafsu dan kesenangan lahir. Sedangkan hubungan seksual berkaitan dengan dorongan kepuasan batini. Puasa melarang kedua hal dilakukan pada siang hari, dan itu merupakan metode latihan agar kaum muslimin menjadi orang yang tidak terkuasai oleh nafsu dan dorongan syahwatnya.

Pengalaman membuktikan, banyaknya kejahatan dewasa ini sebagian besar - kalau tidak seluruhnya – bersumber dari ketamakan terhadap kekayaan dan kepuasan lahiriah serta pelepasan nafsu seksual yang tak terkendali.

Akan tetapi, kedua hal tersebut adalah persoalan lahiriah, maka pelaksanaanya relatif mudah dilakukan. Tegasnya, tidak terlalu sulit bagi seseorang untuk tidak makan dan minum di siang hari. Sementara itu, hubungan seksual bahkan terbiasa dilakukan di malam hari.

Dengan demikian, sepanjang hal-hal di atas ditaati maka puasanya dipandang sah. Mudah bukan? Sah adalah salah satu istilah teknik kefikihan yang berkaitan dengan hal-hal terpenuhinya syarat-syarat suatu kewajiban. Sepanjang persyaratan terpenuhi, maka kewajiban pun dipandang sebagai telah dilakukan dengan sah, dan pelakunya tidak perlu mengulang kewajiban tersebut (Afif Muhammad, 1998).

Yang kedua adalah substantif atau aspek hakikat. Harus diperhatikan bahwa setiap ajaran Islam menyimpan “pesan moral” tertentu. Pelaksanaan suatu ajaran kewajiban seringkali dipandang tidak bernilai sepanjang pesan moralnya tidak dilaksanakan. Tegasnya, pelaksanaan ajaran kewajiban tersebut dianggap sia-sia, sekalipun sah. Dilihat dari kemasannya ia memenuhi syarat, tapi isinya tidak ada. Persis seperti padi yang tidak berisi. Secara kasat mata si padi kelihatan montok, namun begitu dipegang atau dikupas tidak ada berasnya.

Puasa bertujuan untuk mencapai derajat takwa. Abdul Halim Mahmud dalam kitab Asrarul Ibadah fil Islam menyebutkan bahwasalah satu dimensi takwa adalah menjauhi maksiat dari berbagai dosa, termasuk memfitnah, dendam, dengki, minum-minuman keras, ngerumpi dan berbuat kerusakan. Manusia bertakwa harus dengan sadar melaksanakan seluruh perintah Allah seperti sholat, puasa, menyantuni yatim piatu, fakir miskin dan mengerjakan amal shaleh lainnya.

Di antara pesan moran ibadah puasa adalah menumbuhkan rasa solidaritas terhadap sesame manusia terutama fakir miskin dan yatim piatu. Ketika lapar dan dahaga kita rasakan yang hanya sekian jam, ketika itu pula batin kita empati terhadap tetangga sebelah yang fakir miskin itu. Tentu ia lebih lama dan sering merasakan sakitnya kelaparan. Ketika kita asyik berbuka puasa dan bercengkrama dengan orang tua, lalu batin kita harus terenyuh ingat si yatim yang tidak seperti kita. Dengan demikian shadaqoh atau menyantuni fakir miskin, yatim piatu dan sejenisnya seolah menjadi perinta Tuhan yang tak terfirmankan untuk mendesak kita amalkan.

Menjauhi segala kemaksiatan itu merupakan pesan moral ibadah puasa. Negerumpi (namimah) misalnya adalah salah satu katagori kemaksiatan. Tanpa sadar dan sengaja mudah sekali kita terjebak melakukan kegiatan membicarakan orang atau ngerumpi ini. Biasanya ini dilakukan sambil ngabuburit atau kapan dan dimana saja. Anehnya, ketika orang lain mencoba mengingatkan kita untuk tidak berlaku demikian, dengan lugas kita berdalih, “Lho, kita kan ngomongin barang nyata”. Termasuk perbuatan maksiat lainnya diantaranya sepasang remaja yang berangkat tarawih sambil pacaran atau jalan-jalan pagi sambil cuci mata. Sikap amarah dan dusta juga pekerjaan berdosa.

Namun jangan lupa bahwa membuka peluang orang lain untuk marah dan dusta itu sama dosanya, kalau tidak mau dikatakan lebih berdosa, dengan marah dan dusta itu sendiri. Begitu pula sangat berdosa jika kita membuka peluang untuk ngerumpi, untuk pacaran, membuka aurat ketika kita olah raga pagi sehingga orang lain berkesempatan mencuri pandang aurat kita.

Dengan demikian makna puasa sebagai menahan diri dari hal-hal yang membatalkan dan hal-hal yang berbau maksiat menjadi semakin jelas mengantarkan kita ke derajat ketakwaan. Apalagi jika diingat bahwa puasa itu adalah tameng atau perisai diri. Seperti sabda Rasulallah, “Puasa itu perisai. Apabila salah seorang kamu berpuasa, jangan ia menuturkan kata-kata yang keji dan janganlah ia menghingar-bingarkan (ngerumpi). Jika ada sesorang memarahinya atau memukulinya hendaklah ia mengatakan : saya sedang berpuasa” (Nabi Muhammad).

Oleh karenanya menjadi sangat terpuji dan menjadi suatu keharusan, jika dibulan Ramadhan ini kita sama-sama mengawali menciptakan iklim yang kondusif agar kwalitas puasa terjaga. Dengan demikian setidaknya kita terhindar dari sindiran Nabi, “Betapa banyak orang berpuasa tapi tak mendapatkan sedikitpun hikmah dari puasanya kecuali lapar dan dahaga” (HR. Ad-Darrami).

Menjadikan puasa sebagai kegiatan spiritual yang memuat pesan moral serta mengandung efek sosial, seperti dipraktikkan oleh para tokoh di atas, agaknya memang tidak semudah membalikkan kedua telapak tangan. Untuk mewujudkannya diperlukan keseimbangan batiniah dan lahiriah. Apabila keduanya kurang serasi dan selaras, akan tercemar kadar kualitas puasa kita.

Setidaknya, untuk kedua aspek diataslah kita ikhlas melakukan ibadah puasa.
______________
Tulisan ini pernah dimuat di Pikiran Rakyat, Selasa, 12 Januari 1999.

Oleh: Samsul Maarif, Direktur Lembaga Telaah Agama dan Masyarakat (el-TAM) Bandung.
ARTIKEL SELANJUTNYA Selanjutnya
ARTIKEL SEBELUMNYA Sebelumnya
ARTIKEL SELANJUTNYA Selanjutnya
ARTIKEL SEBELUMNYA Sebelumnya
 

Masukan email Anda di bawah ini