Rabu, 09 Mei 2018

Rute Dakwah Syekh Maulana Raden Muhammad Syafei (Bag. II)

Amar Sudarman (kanan), salah satu tokoh Cililin
Ada yang menarik dalam pengembaraan dan perjalanan dakwah Syekh Muhammad Syafei dengan penamaan beberapa tempat yang saat ini dikenal di wilayah Cililin dan sekitarnya. Tempat-tempat ini diduga berkaitan dengan rute syiar Islam yang dilakukannya. 

Diceritakan bahwa perjalanan rombongan Syekh Maulana terlebih dahulu singgah di tempat yang nyaman sambil mengajarkan ajaran Islam. Nama tempat tersebut sampai sekarang diberi nama “Sindangkerta”. Sindang berarti berhenti Kerta berarti nyaman atau aman, yang sekarang telah menjadi Kecamatan Sindangkerta.

Dari tempat tersebut pindah kesebelah utara untuk meneruskan ajaran agama Islam. Kemudian singgah lagi di suatu tempat. Nama tempat yang baru ini diberi nama kampung Panaruban. Panaruban berasal dari takharub berarti mendekatkan diri kepada Tuhan yang Maha Kuasa.

Di Panaruban dimulailah pengajaran agama Islam dengan melalui dzikir. Suara dzikir tersebut oleh masyarakat sekitarnya terdengar bergema dalam bahasa sunda “ngagerendung”. Lama kelamaan kampung Panaruban berubah menjadi kampung Gerendung. Kata Gerendung ini bisa juga dari kata gerendeng dalam bahasa Sunda, yang berarti suara yang halus.

Kampung Gerendung makin lama makin ramai didatangi oleh para santri yang akan menuntut ilmu agama. Akhirnya berkumpullah para santri di kampung itu. Tempat berkumpulnya para santri tersebut dinamakan “Jenuk”. Jenuk berarti kumpul, yang dikenal dengan istilah Batur Jenuk Balarea artinya semuanya orang disini saudara. Sekarang nama kampung itu berubah menjadi Cijenuk hingga kini.

Di daerah baru bernama Cijenuk inilah Syekh Maulana Raden Muhammad Syafei menjadikannya sebagai pusat dakwah Islam. Ditempat ini, Syekh Maulana merintis pesantren yang cukup sederhana dengan santri dari penduduk sekitar.

Perkembangan pesantren Cijenuk makin semarak terutama bila mengadakan peringatan Maulid Nabi. Macam-macam jenis makanan dihidangkan termasuk kue basah. Pembuatan kue basah berasal dari kampung sebelah utara Cijenuk sampai sekarang kampung tersebut diberi nama Citalem (Talem berarti wadah kue basah). Citalem sekarang menjadi nama sebuah Desa di Kecamatan Cipongkor.

Pada waktu itu peralatan hidangan makanan belum menggunakan bahan-bahan dari hasil tekhnik industri seperti rantang, gelas kaca, dan cerek. Untuk mewadahi air minum, sayur daging, tuak enau (teres berarti lahang). Panerasan berarti tukang “nyadap”. Selalu mempergunakan “katung” yaitu lodong pendek. Katung yang lebih pendek lagi diberi nama “mangkok” atau “bekong”. Pembuatan katung ini dari suatu kampung yang terletak sebelah barat Cijenuk. Nama kampung ini sampai sekarang diberi nama “Cipongkor”. Pongkor artinya lodong pendek atau katung. Sekarang Cipongkor menjadi nama sebuah Kecamatan.

*Tulisan ini diolah dari hasil wawancara dengan Bapak Amar Sudarman (Sesepuh Cililin). Sebagian besar tulisan ini diadaptasi dari hasil peneliti beliau yang berjudul: sejarah Cililin Rungsit (1630-1643) dan Cikal Bakal Kewedaan Rongga-Cililin (1705-1962).
______
Oleh: Edi Rusyandi
(Peminat Kajian Pesantren)
ARTIKEL SELANJUTNYA Selanjutnya
ARTIKEL SEBELUMNYA Sebelumnya
ARTIKEL SELANJUTNYA Selanjutnya
ARTIKEL SEBELUMNYA Sebelumnya
 

Masukan email Anda di bawah ini