Kamis, 07 Juni 2018

Roadshow, FP2KC: Upaya Pelestarian Karst Citatah Harus Terus Disebarluaskan

Roadshow, FP2KC: Upaya Pelestarian Karst Citatah Harus Terus Disebarluaskan

Cipatat, Cempor.id - Sejumlah aktivis yang tergabung dalam Forum Pemuda Peduli Karst Citatah (FP2KC) mengadakan kegiatan Roadshow Bina Lingkungan, Jumat, (01/05) di Bale Guha Pawon Kp. Panyusuan Ds. Gunung Masigit Kec. Cipatat. Kegiatan yang dikemas dengan buka bersama ini juga melibatkan sejumlah organisasi lainnya, seperti WALHI Jabar, Pokdarwis Guha Pawon, Jatam (Jaringan Anti Tambang), FPTI (Federasi Panjat Tebing Indonesia) Bandung Barat, Citatah Rescue Team (CRT), Jungle Stone Citatah dan Baksol Move On.

Menurut Anang Sekjen FP2KC, kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai wahana silaturahmi para pegiat dan komunitas penggerak lingkungan yang selama ini berkonsentrasi dalam pelestarian kawasan karst Citatah.

Kegiatan diawali dengan penayangan film dokumenter "Deru Debu" film karya Yoko Yonata dan film dokumenter "Pesta Demokrasi Berlumur Batu Bara".

"Kegiatan ini sekaligus dalam rangka memperingati hari tambang 2018. Film Deru debu menceritakan kisah seorang perempuan pekerja tambang dari Gunung Masigit," kata Anang.

Direktur Walhi Jabar Dadan Ramdhan menegaskan bahwa kegiatan pertambangan itu merusak lingkungan,  tidak ada pertambangan yg tidak merusak lingkungan. Ketika gunung sudah hancur, batu gamping sudah hancur, kita tidak mampu membuatnya kembali.

"Jangan pandang soal ini hanya soal batu, tapi ada kehidupan sosial masyarakat yang melingkupinya. Artinya ketika kita berbicara tentang karst berarti kita sedang membicarakan keberlangsungan kehidupan manusia," tegas Dadan.

Ia berharap agar pengalaman yang telah dilakukan FP2KC dalam upaya pelestarian kawasan Karst Citatah disebarkan luaskan kepada kelompok di belahan Karst lainnya.

Sementara itu ketua FP2KC Deden Syarif Hidayat menjelaskan, Karst ibarat sebuah Spon/kain busa yang mampu menyerap banyak air. Menjadi penyedia air meski di musim kering. Sumber daya alam yang unik mengandung nilai-nilai penting dan manfaat bagi kehidupan ekologi dan manusia.

Menurutnya, Pertambangan di kawasan karst Citatah sudah berlangsung lama sejak 1970-an. Mulai dari pertambangan rakyat hingga korporasi perusahaan besar seperti saat ini.

"Dan tanpa  disadari telah menimbulkan dampak kerusakan lingkungan dan sosial yg besar. Perubahan bentang alam, polusi udara, potensi longsor, erosi tanah dan batuan, hilangnya sumber mata air, musnahnya keanekaragam hayati serta hilangnya wahana pendidikan dan laboratorium alam di Kab Bandung Barat," jelasnya.

Sedari awal, imbuhnya, FP2KC meneguhkan komitment untuk mengusung slogan "Pulihkan Karst Citatah, Makmurkan Rakyat".  Maka 3 fokus program yang harus dilakukan adalah upaya penyadaran dan advokasi, pengembangan SDM non tambang, dan aksi nyata pemulihan kawasan karst. Sejak 2009 kita coba terus tingkatkan misi ini.

Dengan munculnya potensi ekonomi lain selain tambang, seperti destinasi wisata dan lain-lain, diharap mampu menjawab permasalahan ini secara bertahap.

"Dan "emas putih" ini dapat lestari dengan penduduknya yang makmur dan harmoni," pungkasnya. (anang/Edi)
ARTIKEL SELANJUTNYA Selanjutnya
ARTIKEL SEBELUMNYA Sebelumnya
ARTIKEL SELANJUTNYA Selanjutnya
ARTIKEL SEBELUMNYA Sebelumnya
 

Masukan email Anda di bawah ini